Jurnalisme damai yang dikampanyekan oleh Sirikit Syah memang layak diapresiasi, mengingat saat ini kecenderungan media dalam sistem komunikasinya lebih banyak mengarah ke pembangunan opini secara buruk alias negatif dari pada ke positif.
Artinya, konstruksi imaji yang mendasari terbentuknya opini bersama lebih mengarah ke kebencian, permusuhan, geregetan, ketidaksabaran, dan lain-lain.
Pola komunikasi yang dibangun (entah melalui konstruksi bahasa, pemilihan kata, idiom, istilah populer, bahasa subkultur, dan lain-lain) sangat mempengaruhi penerimaan pembaca atau penikmat media. Dalam hal ini, persepsi pembaca dapat disetting secara seksama oleh media itu sendiri.
Artinya, di sini tak ada lagi ruang merdeka - kecuali sejengkal - yang dimiliki pembaca atau penikmat untuk secara jernih memilah dan memilih serta menyaring apapun yang dikonstruksi oleh media tersebut.
Semua orang mafhum, fungsi media tak lagi memberitakan, memberi gambaran realitas, tapi menciptakan realitas itu sendiri.
Dalam hal ini, manipulasi menjadi sesuatu yang lumrah, karena ideologi yang menjadi dasar bagi perkembangan media tak lagi sebatas memberi nilai yang lebih humanis ke manusia, tetapi lebih ke bagaimana pasar memiliki keinginan dan bagaimana media bergerak sesuai arah pasar itu.
Bersambung......
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar